Tepatnya
dua tahun yang lalu, aku duduk di kelas Sembilan salah satu madrasah aliyah
negeri terkemuka di jawa timur, menjadi sebuah kebanggan tersendiri bisa
menjadi salah satu siswa di madrasah ini, selain menjadi siswa, saya juga
menjadi santri di salah satu pesantren terkemuka di jawa timur, dan satu lokasi
dari sekolahku. Layaknya seperti semua siswa, ketika akan lulus pastinya
berfikir untuk masa depan.
Suatu
hari, jadwalnya besuk santri, tepat jam sepuluh keluargaku datang ke pondok. Ku
dengar lantunan suara dari pengeras suara kantor pondok, (an nida’ ly akhina…..’alaika an tahdhuro ila idarotil ma’had, mudif
laka), hal yang paling terindah bagi seorang santri, kemudian aku dating ke
kantor, sesampainya udah di sambut oleh keluargaku, ada ayah ibu dan kakak.
Kemudian kami bercengkrama, makan dan melepas rindu. Di sela sela kegenbiraan
aku ada maksud bicara, aku bilang pada aby, bi…..ini udah waktunya pendaftaran
kuliyah, kemaren aku udah daftar online lewat jalur SNMPTN. Aku ambil di jogja.
Kayaknya sok deh aby dengar itu, jawabnya nggak usah kuliyah, mondok aja, saut
ammy, kalo mau kuliyah jangan jauh jauh, deket deket sini aja, terus saut aby,
iyha gak apa apa kuliyah tapi deket deket sini dan tetap mondok. Saut ku, tapi
udah terlanjur by….ya udah lah terserah, semoga di beri jalan yang terbaik,
dalam benak ku..amin alhamdulilllah.
Malam
harinya aku di panggil abah dan aku ditanya tadi abahmu ke sini, katanya mau
kuliyah di jogja, apa iya….? Akupun menjawab naam insyaallah, ambil jurusan
apa..?ilmu hokum. Ngapain jauh jauh, jurusan itu ada di sini, terus
mondok,…?injeh, pengennya sama di krapyak, gini aja gak usah ke jogja tetap
mondok di sini sambil ngajar terus kuliyah di dekat sini. Rasanya hati ini
terasa gundah, gimana tidak, beliau beliau adalah panutanku.aku pun mulai
berfikir, seakan akan pesimis karena beliau nggak merestui.
Beberapa
minggu kemudian, pengumman SNMPTN pun keluar, dan akharnya akupun di terima di
jurusan dan kampus yang aku inginkan. Kemudian aku pun nekat ke jogja sendiri
tanpa restu beliau beliau, aku urusi di kampus dan bisa mendapatkan KTM,
sesampainya pulang ke pndok akupun di panggil abah, gimana,,? Kemaren udah ke
jogja juga udah dapat KTM. Beliau agak tinggi nadanya….siapa nyuruh ke sana..?inisiatif
piyambak..beliau menjawab, gini aja, batalkan yang di jogja tetep di sini, dan
kuliyah di sini, nanti saya kasih beasiswa. Saya daftarin nanti, kamu gak usah
ngurus in.
Aku
pun kemabali ke asrama dengan membawa kekecewaan, kemudian aku izin ke kantor
pondok untuk telphon orang tua, langsung aku telphon nomor rumah, dan di jawab
oleh ummy tercinta, assalamualaikum, my, waalaiksalam, langsung beliau menyaut,
ada apa kok nadanya lemah, aku pun jawab, tadi lho, aku di panggil abah, dan di
bilangin nggak boleh kuliyah di jogja, udah lahc ikutin aja lagian, kalau kamu
kuliyah jauh jauh, kamu lho sering sakit, kalau tempatmu jauh nanti kasihan
orang tua jadi kepikiran.dengan nada kekecewaan akhirnya aku udahi pembicaraan
ku dengan ummy tercinta.
Hari
hari selanjutnya, aku pun nggak punya niatan untuk daftar di kampus lain dengan
menggunakan jalur yang masih ada, aku renungi kekecewaan ini. Beberapa hari
kemudian aku pun di panfggil lagi oleh abah, kamu udah di terima di kampus
……..ini syarat syaratnya kamu lengkapi dan besok bawa kesini, nggak usah di
pikirin, ini demi kebaikan dan masa depan kamu, injeh insyaallah, saya ikut apa
saran antum. Dan aku pun pergi dengan membawa keyakinan karena aku udah di beri
petuah petuah yang meyakinkan aku untuk tetap di pondok ini dan kuliyah di
sini.
Esok
aharinya aku datang ke dalem abah dengan membawa kelengkapan pendaftaran.
Kemusian di sambut abah dan di bilangin, iya kamu saya kasih beasiswa, tadi pas
musyawaroh udah sata lingkari namamu, tinggal kamu kuliyah dan mondok dengan
sungguh sungguh. Dan aku pun berfikir, semudah itu ya kasih beasiswa (abah
adalah salah satu dekan di kampus itu), padahal saya juga nggak layak
mendapatkan beasiswa. Ada yang lebih berhak mendappatkannya.
Intinya,
nasib seseorang di tentukan oleh orang orang yang berada di atas.

Cerita di atas belum menampakkan pembahasan secara teorotis tentang stratifikasi sosial, baru mencontohkan besarnya pengaruh orang yang berada di lapisan atas terhadap orang yang berada di lapisan bawah.
BalasHapus