Selasa, 28 Maret 2017

Karena silaturahmi, ada rezeqi




            Tepatnya dua tahun yang lalu, aku duduk di kelas Sembilan salah satu madrasah aliyah negeri terkemuka di jawa timur, menjadi sebuah kebanggan tersendiri bisa menjadi salah satu siswa di madrasah ini, selain menjadi siswa, saya juga menjadi santri di salah satu pesantren terkemuka di jawa timur, dan satu lokasi dari sekolahku. Layaknya seperti semua siswa, ketika akan lulus pastinya berfikir untuk masa depan.
            Suatu hari, jadwalnya besuk santri, tepat jam sepuluh keluargaku datang ke pondok. Ku dengar lantunan suara dari pengeras suara kantor pondok, (an nida’ ly akhina…..’alaika an tahdhuro ila idarotil ma’had, mudif laka), hal yang paling terindah bagi seorang santri, kemudian aku dating ke kantor, sesampainya udah di sambut oleh keluargaku, ada ayah ibu dan kakak. Kemudian kami bercengkrama, makan dan melepas rindu. Di sela sela kegenbiraan aku ada maksud bicara, aku bilang pada aby, bi…..ini udah waktunya pendaftaran kuliyah, kemaren aku udah daftar online lewat jalur SNMPTN. Aku ambil di jogja. Kayaknya sok deh aby dengar itu, jawabnya nggak usah kuliyah, mondok aja, saut ammy, kalo mau kuliyah jangan jauh jauh, deket deket sini aja, terus saut aby, iyha gak apa apa kuliyah tapi deket deket sini dan tetap mondok. Saut ku, tapi udah terlanjur by….ya udah lah terserah, semoga di beri jalan yang terbaik, dalam benak ku..amin alhamdulilllah.
            Malam harinya aku di panggil abah dan aku ditanya tadi abahmu ke sini, katanya mau kuliyah di jogja, apa iya….? Akupun menjawab naam insyaallah, ambil jurusan apa..?ilmu hokum. Ngapain jauh jauh, jurusan itu ada di sini, terus mondok,…?injeh, pengennya sama di krapyak, gini aja gak usah ke jogja tetap mondok di sini sambil ngajar terus kuliyah di dekat sini. Rasanya hati ini terasa gundah, gimana tidak, beliau beliau adalah panutanku.aku pun mulai berfikir, seakan akan pesimis karena beliau nggak merestui.
            Beberapa minggu kemudian, pengumman SNMPTN pun keluar, dan akharnya akupun di terima di jurusan dan kampus yang aku inginkan. Kemudian aku pun nekat ke jogja sendiri tanpa restu beliau beliau, aku urusi di kampus dan bisa mendapatkan KTM, sesampainya pulang ke pndok akupun di panggil abah, gimana,,? Kemaren udah ke jogja juga udah dapat KTM. Beliau agak tinggi nadanya….siapa nyuruh ke sana..?inisiatif piyambak..beliau menjawab, gini aja, batalkan yang di jogja tetep di sini, dan kuliyah di sini, nanti saya kasih beasiswa. Saya daftarin nanti, kamu gak usah ngurus in.
            Aku pun kemabali ke asrama dengan membawa kekecewaan, kemudian aku izin ke kantor pondok untuk telphon orang tua, langsung aku telphon nomor rumah, dan di jawab oleh ummy tercinta, assalamualaikum, my, waalaiksalam, langsung beliau menyaut, ada apa kok nadanya lemah, aku pun jawab, tadi lho, aku di panggil abah, dan di bilangin nggak boleh kuliyah di jogja, udah lahc ikutin aja lagian, kalau kamu kuliyah jauh jauh, kamu lho sering sakit, kalau tempatmu jauh nanti kasihan orang tua jadi kepikiran.dengan nada kekecewaan akhirnya aku udahi pembicaraan ku dengan ummy tercinta.
            Hari hari selanjutnya, aku pun nggak punya niatan untuk daftar di kampus lain dengan menggunakan jalur yang masih ada, aku renungi kekecewaan ini. Beberapa hari kemudian aku pun di panfggil lagi oleh abah, kamu udah di terima di kampus ……..ini syarat syaratnya kamu lengkapi dan besok bawa kesini, nggak usah di pikirin, ini demi kebaikan dan masa depan kamu, injeh insyaallah, saya ikut apa saran antum. Dan aku pun pergi dengan membawa keyakinan karena aku udah di beri petuah petuah yang meyakinkan aku untuk tetap di pondok ini dan kuliyah di sini.
            Esok aharinya aku datang ke dalem abah dengan membawa kelengkapan pendaftaran. Kemusian di sambut abah dan di bilangin, iya kamu saya kasih beasiswa, tadi pas musyawaroh udah sata lingkari namamu, tinggal kamu kuliyah dan mondok dengan sungguh sungguh. Dan aku pun berfikir, semudah itu ya kasih beasiswa (abah adalah salah satu dekan di kampus itu), padahal saya juga nggak layak mendapatkan beasiswa. Ada yang lebih berhak mendappatkannya.

            Intinya, nasib seseorang di tentukan oleh orang orang yang berada di atas.

1 komentar:

  1. Cerita di atas belum menampakkan pembahasan secara teorotis tentang stratifikasi sosial, baru mencontohkan besarnya pengaruh orang yang berada di lapisan atas terhadap orang yang berada di lapisan bawah.

    BalasHapus