Melanjutkan tulisan
sebelumnya, tentang stratifikasi social. Aku pun memberikan syarat jika aku di
wajibkan tetap tinggal di pondok ini. Saya ingin menempat di asrama pondok MI
(asrama yang santrinya setingkat sekolah dasar)/ harapan ku adalah, mengajari
anak kecil itu lebih banyak manfaatnya, contoh baca qur’an, sholat, sampai tua
pun ia akan tetap melakukan, kalau pun nagajari orangg besar, belum teentu ia
melaksanakannya.
Ternyata permintaan ku itu di
kabulkan, akhirnya aku jalani kehidupan, meskipun belum menikah tetapi harus
berkutat dengan keseharian anak mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.
(calon papa idaman..hehe). aku ingat inggat pendidikan di masa kecil ku, aku
dulu kelas 1 SD juga sudah di masukkan di pondok pesantren. Satu hal yang
sangat teringgat, semasa kecil ku ketika sebelum tidur, aku selalu di kasih
cerita oleh aby, teentang wali wali, para kiai, dan yang paling banyak ialah
tentang kehidupan di pesantren. Itu lah yang aku sadari tertanam dalam benak ku
hingga aku suka hidup di pesantren, sampai sekarang hingga tak lagi nyaman
ketika pulang di rummah.
Selain itu, aku dulu anaknya
suka meminta sesuatu, khususnyya mainan, tapi ketika aku meminta kepada orang
tua, ternyata nggak langsung di belikan (bukan tidak bisa atau tidak mau
membelikann), tetapi, selalu saja di di
berikan sebuah syarat, baik itu harus ranking 1 ataupun harus hafal doa ini atau itu. Akan tetapi namanya anak kecil
ketika ingin sesuatu harus bisa terpenuhi, dan ituu pun menjadi penyemangat aku
untuk memenuhi syarat syarat tersebut. Dari hafalan hhaffalan itu lah sampai
umur seginii ternyatta, lebih kuat dan bertahan lama.
Juga ketika kecil, aku di
ajjarkan tepat waktu, yang masihh akuu ingat, jam 4 sore kalau belum mandi,
biasanya tongkat melayang, jam 11.30 kketika hari juum’at kalau belum berangkat
ke masjid, tongkat melayang lahc, dan beberapa hal lain yang mendidik aku untuk
selalu tepat waktu.
Iyu segelintir pendidikan atau
penanaman karakter di masa kecilku, kemudian dii tambah penanaman karakter ku
di masa kecil ku ketika aku di masukan di pondook pesantren. Satu hhal yang
tertancap dalam kehiduppan ku, dulu pas di pondok para ustadz, kiiaii ketika
berbiicara dengan ku menggunakan bosoo kromo (bahasa sopan dalam adat jawa).
Ppadahal aku masih kecil, seharusnya aku yang hormat karena aku lebih kecil,
ternyata itu lah pelajaran nagiku, supaya aku bisa menghargaii orang di
sekkelilingku.
Dari pengalaman itu lah yang
berusaha aku terapkan dalam dunia ku saat
ini, yaiitu harus mmengasuh anak kecil yamg lumayan menguuras fikiran ddan
tenaga. Yyang ku alami saat ini adalah, anak
annak yyang ku hadapi saat ini addalah mayorittas bandel bandel, kareena
kebanyakan adda masalah dari keluarganya, kurang kasih saying, tak ada yang
urus, dsb. Dan tidak murni niattan mondok akan tetapi kareena masalah itu lahc
di masukan di pesantren.
Di tempat ini lahc aku bisa lebih banyak belajar lagi, beberrapa
pelajaran bbagiku, akuu iitu orang ketika di pondok karena dengan kemalasan ku,
aku sering menyuruh anak anak ku tapi pastinya aku beri imbalan, aku pun tak
merasa bahwa itu kesalahan besar dalam hidup ku, ternyata dari anak anak yang senior melakukan hal yang
sama dengganku, menyuruh juniornya. Terus lagi, denggan kesibukan dan
kemalasanku aku nggak pernah mencuci selalu aja laundry (mungkin ini penanaman
karrakterku ketika masih kecil addalah di manja). Termyata ada lagi yang
meniruku, senior menyuruh junior untuk mencuuci, jadinya akuu jadi berfikir,
ternyata pendidiikan dan lingkungan lahh yyang memberikan karakter dalam anak
serta menetukan masa deepannya.
Pada intinya penanaman
karakter di masa kecil yang mmenetukan sifat dari seseorang ketika udah besar,
jika karakter kketika ia masih kecil udah kuat, maka ketika dia besar dan di
taruh di manapun, dia akan tetap, membawa karakternya yang kuat itu. Dan setiap lembaga masyakat
yang baik ialah yang memberikann karakter terhadap anak, lingkungan keluarga,
sekoolah dan lain lain, serta tiga item yang harus mendukung, jika mau mendidik
anak, yaiitu, keluarga, pendidikan, lingkunga, harus baik.
Teringat sebuah pesan ketika
aku terjuun di dunia pendidikan, kalau jadi guru jangan niat mintarkan anak,
tapi berikan pengertian terhadap anak, kkareena ketika dia pintar akan
terkkesan minteri kalau diia ngerti, kan menjadi pengertian…..semoga bermanfaat


